Learning, the Essence of Life.
Ceu, meuni belajar wae ih… ada seorang teman yang selalu berkomentar demikian jika bertemu selain di kelas. ice-breaking, mungkin. Karena kami memang tidak dekat. Jikapun sedang belajar, ga apa-apa kan? Karena belajar itu esensi hidup manusia. Kata belajar –disadari maupun tidak– sering kali diidentikkan dengan sekolah, kuliah atau institusi keilmuan formal lainnya. Padahal jika menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Prof.JS Badudu –seorang profesor dari profesor-profesor bahasa yang sekarang ada di UPI dan UNPAD– belajar didefinisikan sebagai:
“Belajar memahami sesuatu; Berusaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan; berusaha agar dapat terampil mengerjakan sesuatu” [1]
sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , belajar didefinisikan sebagai:
“Berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; Berlatih; Berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”
Sehingga jelas, bahwa makna belajar yang telah terkerucut menjadi kuliah formal adalah makna yang kurang tepat. Belajar sebenarnya adalah inti dari hidup manusia, karena dua perkara yang paling penting bagi manusia –ilmu dan amal–[2] tidak terlepas dari proses belajar. Amalan tanpa ilmu dapat tertolak/salah, ilmu tanpa amalan pun tidak dapat dibenarkan, hal ini sejalan dengan tafsir as-Sa’di untuk al fatihah ayat sbb:
“Bukan jalan orang –orang yang Engkau murkai” yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya, seperti Yahudi dan yang seperti mereka.
“Dan bukanlah jalan orang-orang yang sesat” Yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran di atas kebodohan dan kesesatan, seperti Nashara dan yang seperti mereka. [3]
Sepanjang hidup terus belajar,praktik dalam kehidupan sehari-hari pun sama, dimulai dari bayi yang belajar duduk, berdiri, berjalan; Atau seperti yang mamah saya sebutkan bahwa beliau pun dalam tahap belajar mengurus anak, berbeda antara anak batita, balita, remaja, dan beranjak dewasa. Setiap fase yang terjadi pada seorang anak adalah berbeda dan banyak yang bisa menjadi pelajaran berharga; Juga mempelajari diri sendiri dan mendidik diri sendiri rasanya merupakan mata pelajaran yang paling sulit.
Jika ditanya mengenai cara belajar yang efektif maka jawabannya menjadi relatif, karena setiap orang memiliki karakter, kapasitas, dan pola pikir yang berbeda-beda. Khas. Juga adanya perbedaan karakteristik dari setiap jenis pelajaran/ilmu yang akan dipelajari. Mengenai cara belajar, buku “Strategi Sukses di Kampus” menjelaskan bahwa: secara ringkas cara belajar dapat diklasifikasikan berdasarkan tiga hal:
1. Cara penerimaan informasi
2. Dominasi otak
3. kemandirian
Berdasarkan cara penerimaan informasi: visual, audio, dan kinestetik
Berdasarkan dominasi otak: otak kanan, otak kiri
Berdasarkan kemandirian: belajar mandiri, belajar bersama
Salah satu model learning style yang paling banyak digunakan adalah Index of Learing Style yang dikembangkan oleh Richard Felder dan Linda Silverman pada akhir 1980-an, yaitu pembagian learning style menjadi empat dimensi.
Tambahan lain dari kitab Hilyah Thalibul ‘Ilmi, beberapa kunci mencari ilmu adalah mulazamah dengan yang ahli, pengulangan, serta menulis. Para ulama selalu berdaidang: “Ilmu itu diikat dengan ditulis”, tapi tentu berbeda tergantung kondisi orang tersebut, jika memang otaknya seencer imam Daruqutni yang sekali hafal tidak pernah lupa, yaa beda kondisi, atau seperti al-Mizzi –guru sekaligus mertua Ibn Katsir– yang dalam keadaan terkantuk-kantuk pun masih tetap ‘nyambung’, tapi tentu tidak semua orang dianugrahi kemampuan seperti itu.
Aspek lain yang perlu ditinjau adalah jenis pelajaran/ilmu yang akan dipelajari yang masing-masing jenis ilmu memiliki karakteristik yang berbeda. Jika boleh mengklasifikasikan sendiri, ilmu saya klasifikasikan menjadi dua kingdom, ilmu dunia dan ilmu din. Masing-masing kingdom dibagi menjadi beberapa divisi, misalnya ilmu dunia menjadi ilmu sosial, ilmu alam, ilmu bahasa, dll
Karakteristik ilmu dunia dan ilmu din berbeda. Yang saya pahami, (wallahua’lam) dari segi sifat kebenaran, ilmu din memiliki kebenaran mutlak, dimana sesuatu yang di zaman pembawa risalah terakhir (zaman rasullah Muhammad bin Abdullah) dianggap sebagai kebenaran akan terus dianggap sebagai kebenaran sampai kapanpun, karena tidak akan ada risalah baru yang datang (kecuali ada nasikh mansukh oleh rasulullah sendiri; opsi lain jika meyakini akan ada pembawa risalah baru setelah Muhammad- seperti golongan Ahmadiyah dan Al Qiyadah); sedangkan ilmu dunia memiliki kebenaran relatif, dimana sesuatu yang saat ini/di masa lalu dianggap sebagai kebenaran belum tentu dianggap sebagai kebenaran di masa mendatang, relatif karena ilmu dunia akan sejalan dengan perkembangan teknologi yang ada.

Contoh mudahnya adalah senyawa DDT, insektisida organik berklorin pertama, awalnya dianggap sebagai senyawa aman bahkan Paul Muller mendapatkan Nobel 1948 karena penelitiannya tentang DDT, namun 1972 dilarang karena sifatnya yang persisten selama beberapa tahun menyebabkan DDT berbahaya yaitu dapat terbiomagnifikasi dalam rantai makanan.
Atau seperti Pluto yang sejak SD telah didoktrinkan sebagai salah satu planet di tata surya ini, tapi belakangan Pluto kehilangan statusnya, seperti disebutkan oleh National Geographic: “Pluto Not a Planet, Astronomers Rule”. Atau juga seperti PLTSa Gede Bage yang sekarang dianggap sebagai “sumber listrik”, tapi wallahu’alam statusnya di masa mendatang, akankah mengalami cerita yang sama dengan pabrik pupuk Minamata (Nippon Nitrogen Fertilizer Co., Ltd.)?
Disamping memiliki perbedaan,semua jenis ilmu juga memiliki kesamaan prinsip, yaitu manusia/ketokohan bukan patokan kebenaran yang dibawanya, tapi apa yang dibawa seseorang akan membuktikan apakah dia (si tokoh/manusia) berada di atas kebenaran atau bukan. Manusia bisa salah? Tentu, terlihat jelas dari hadits Rasullah yang shahih bahwa seluruh anak adam itu dapat berbuat salah. Juga jelas dari ucapan-ucapan ulama seperti ucapan Imam Malik rahimahullah:
“Tidak ada seorang pun melainkan ucapannya bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali pemilik kuburan ini (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [4]
Juga sama dengan kisah Einstein yang fenomenal dan dipuja banyak orangpun, Einstein–menurut salah satu pendapat (wallahua’lam, kalo salah kasi tau yah)– sempat salah dalam berteori. Sehingga dalam belajar apapun tidak berlaku azas taqlid buta atau membebek tanpa berpikir, tapi harus cek dan ricek setiap informasi yang didapat dari seseorang, bahasa sundanya: tatsabbut dan tabayyun dalam mengambil ilmu, mencocoki nasihat ibn sirin dalam mengambil ilmu.
So, hipotesis: Dengan memahami bahwa kini tidak ada seorangpun yang ma’sum/ terlepas dari kesalahan, maka mempelajari ilmu dari ustadz/dosen/siapapun secara ilmiah, jelas, dan berdasar (bukan atas absorpsi bebas tanpa filtrasi) tentu adalah hal yang diinginkan. Dan semoga apa yang telah diabsorpsi (bukan sekedar diadsorpsi) dapat kita utilisasi (alah… ga baku gini -3-).
Last but not least,berdoa. Meminta pada Yang Maha Memiliki Ilmu agar memudahkan, memberi kita ilmu yang bermanfaat.
Hal menarik lain adalah tentang metode belajar `yutori kyouiku`(ゆとり教育) di blognya ibu murni ramli dan di blognya pak sani roy, dimana anak/pelajar tidak terlalu dibebani dengan pelajaran sehingga merasa tertekan atau yang lainnya, tapi diberikan room to grow bagi perkembangan kecerdasan emosi anak (ES). Anak diajak “PKL” untuk mengaplikasikan semua ilmu yang dipelajarinya di mata pelajaran yang lain untuk memahami fenomena alam, lingkungannya, kampungnya, dan orang-orang sekitarnya sehingga anak belajar dari pengalaman. Intinya mungkin supaya anak berpikiran “gakkou wa tanoshii”. Meskipun hal ini masih menjadi kontroversi melihat adanya penurunan prestasi akademik anak-anak jepang secara internasional, dan banyak website yang mengkritisi masalah pendidikan yutori ini.
Kesimpulan: ayo belajar! Tuntutlah ilmu, walaupun di negeri Cina! Hadits ini dhaif jiddan bahkan batil sehingga tidak bisa menjadi dalil ataupun dianggap sebagai ucapan rasulullah, tapi secara makna memberi semangat untuk belajar… belajar.. tapi tentu utamakan ilmu yang harus diprioritaskan
Belajar = never ending story! Tidak akan berakhir, meskipun oleh kematian, karena kematian kita bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang di sekitar kita yang mau berpikir. Belajar… belajar… belajar dengan tubuh, otak, dan hati.






Assalamu’alaykum..
Salam ukhuwah..
Ditunggu tulisan berikutnya ^_^
By: mayapuspitasari on December 13, 2008
at 10:09
wa’alaykumsalam
iya salam juga ya teh… barakallahufiyk.
By: kokoro on January 19, 2009
at 13:45