Apa pendapatmu saat melihat foto ini?

Kireinatte omoimasu, ka na? Serasa savana, dibalut dengan Cumulus di langit yang cerah. Subhanallah, luasnya langit Allah.
Tunggu, jangan tengadah terus… lihat ke bawah…


Yups, lembah yang indah tadi “dimanfaatkan” oleh warga sekitar sebagai TPS (atau TPA ya?) secara open dumping. Lembah indah ini terletak tepat di utara kampung 200.
Kampung 200 yang dibicarakan di sini bukan kampung 200 Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan di kota patriot, Bekasi yang ratusan ayamnya mati mendadak dan diduga teridap virus H5N1 sehingga ditindaklanjuti oleh Kesmavet, tapi Kampung 200 di daerah Sangkuriang Cisitu Bandung.

Kampung 200 terletak di bantaran sungai Cikapundung, memiliki topografi curam hampir mendekati 65-75° secara umum. Di beberapa lokasi, beberapa undakan antar rumah warga mencapai kemiringan 85°—tapi: naik dan turun— (pengaliran air limbah secara gravitasi untuk diolah terpusat, sulit dilakukan). Kondisi tanah bervariasi, di daerah dekat sungai tanahnya berupa cadas dan batuan keras yang diduga merupakan batuan yang dahulunya adalah endapan sungai Cikapundung yang kini telah mengalami pendangkalan (menurut Kepala BAPPEDA Bandung, Tjetje Subrata). Di daerah timur kampung 200 berupa tanah gembur namun menurut survei geodesi yang telah dilakukan daerah tersebut tergolong tanah yang tidak stabil, sehingga berisiko tinggi untuk dijadikan tempat tinggal seperti risiko terkena gempa.
Kenapa daerah ini disebut Kampung 200? Bukan karena dahulunya jumlah penduduk yang ada di kampung itu berjumlah ±200 orang, itu konon sejarahnya kampung 200 Bekasi. Tapi disebutkan, warga kampung yang sekarang bermukim di kawasan ini dahulunya digusur dan diberikan kompensasi Rp200.000,00 ribu per kk. Wajar digusur, karena tanah itu bukan milik mereka. Mungkin karena faktor ketidakmampuan, mereka terpaksa melanggar larangan Rasulullah yang ini*.
Program yang dilakukan kali ini bukan pelatihan bagi warga kampung 200, bukan juga bagi-bagi Sembako bagi warga kampung 200, tapi kali ini adalah mendesain appropriate technology untuk warga, meliputi masalah pengolahan air limbah, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, dan sanitasi. Again, grouped assignment. Bareng [1] [2] [3] [4] [5]
Kampung 200 terdiri dari empat RT yaitu 3, 4, 10, dan 11. Wilayah yang menjadi cakupan survei ini adalah RT. 11 yang berpenduduk total 417 jiwa (112 kk) dengan mata pencaharian utama adalah buruh bangunan dan pemulung, demikian menurut Bu Edi, sang ibu RT.
Berdasarkan hasil survei 42,86% warga memiliki akses terhadap air bersih PDAM yang bisa mereka gunakan untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus. Sebagian warga yang relatif mampu secara ekonomi, umumnya membangun MCK berseptic tank di rumah atau di luar rumah mereka (meskipun yang warga sebut sebagai septic tank di sini pada kenyataannya adalah cubluk). Keberadaan cubluk di daerah atas (selatan) ini dinilai memiliki potensi yang kecil untuk mencemari air tanah karena muka air tanah yang dalam, yaitu lebih dari 20 meter. Sedangkan muka air tanah di daerah bawah (utara) mencapai 5 meter.

Kemana penyaluran efluen dari MCK pribadi ini disalurkan?


iya benar, saluran drainase setempat.
Bagi warga yang kurang mampu yaitu 57,14%, tidak memiliki sarana MCK. 28,57% menggunakan sarana sumur (komunal berjumlah 3) dan kamar mandi umum sederhana tanpa toilet, sebanyak 2 buah untuk seluruh warga yang tidak memiliki kamar mandi pribadi.


Secara visual kualitas air terlihat baik: tidak berwarna (jernih), tidak berbau (baik bau yang berasal dari zat organik maupun dari logam). Tapi entahlah apakah lecheate dari landfill tadi sudah mengontaminasi sumur warga atau tidak.

Sedangkan untuk kebutuhan kakus, warga memanfaatkan sungai sebagai sarana utama. Tentunya ada tips and trick dari warga, menurut bu Marwati, dini hari adalah waktu paling aman untuk membuang air besar di sungai. Tapi kalo kebelet gimana bu? Berikut salah satu live show-nya. Ochitsuki oji-san… hehe

Itu masalah seputar air dan sanitasi. Terakhir, sampah. Landfill di lembah tadi sebenarnya telah menggambarkan bagaimana keadaan pengelolaan sampah di kampung 200. Masalah lainnya adalah pengumpulan, sulit dilakukan karena topografi yang tidak mendukung. Warga harus “naik gunung” untuk membuang sampah, sehingga tidak sedikit warga yang memilih “turun gunung” alias buang sampah ke sungai, lahan kosong, selokan depan rumah, atau membakarnya.
Selama tiga kali survei ke kampung 200, banyak faidah yang bisa diambil. Tapi ada beberapa yang paling berkesan yaitu:
1. A blind old man and his stick, wandering alone, stalking the stairway. Ketika seseorang menyapanya, beliau menjawab (dalam bahasa sunda) dengan nada ceria dan ramah bahwa kini harga seng semakin mahal saja. Lalu beliau melanjutkan perjalanannya. Mandiri, kerja keras, tidak mau merepotkan orang lain, tidak menyerah dengan keadaan/ meratapinya. Itu kesan kuat dari sosok bapak itu. Masya Allah, dengan panca indera yang lengkap, apa yang telah kamu lakukan? Apa yang telah kamu kerjakan? Apakah masih mau berkeluh kesah? Hazukashii…
2. Ma’ Ucih, wanita berusia 81 tahun ini terus meminta maaf karena kondisi rumahnya yang (katanya) jelek (saat kuesioner). Menghadapi seorang nenek—yang biasanya berperasaan halus dan agak pelupa/ sulit connect dengan server—memang harus agak sabar. Alih-alih untuk mendapatkan data tentang daily life sanitation beliau, lha beliau malah cerita tentang keluarganya, 20 menit bo. “jikanai” thats what i thought. Tapi faidah yang didapat ini lebih berharga dari waktu kuliah. Berkali-kali Ma’ Ucih mengusap air mata di kulitnya yang berkeriput, cerita yang sama juga terus Ma’Ucih ulang, tangannya bergetar. Beliau ditinggal mati anak kesayangannya yaitu menurut beliau diguna-guna oleh orang Garut yang teman kerjanya. Beliau juga ditinggal oleh suami yang menikah lagi sehingga jarang sekali pulang ke rumah (poligaminya sih sebenarnya hukumnya halal2 aja, tapi muamalahnya kalo ga enak gini tentunya kasian). Poin pentingnya di sini adalah ga ada yang abadi. Lalu berharap, mencinta, merindu itu hanya untuk Allah. Tatta hitotsu no koi desu. Jadi ingat penjelasan mengenai bagaimana aplikasi tauhid dalam khauf, raja’, raghbah, rahbah, khassyah, dll telah dipaparkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Syarah Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. iya, kecintaan kepada selain Allah adalah kausalitas dari kecintaan pada Allah. Dont depend on creature and their lack of strength but depend to Allah the Almighty, the Lord of the universe, its creator, owner, organizer, provider, master, planner, sustainer, cherisher, and the Giver of security. deshou?
3. Penetapan takdir itu pasti sesuai dengan kebutuhan serta pasti tidak akan melebihi kapasitas diri seorang hamba. And I thank Allah for everything that ive got. Lihatlah orang yang di bawahmu dalam perkara dunia; lihatlah orang yang di atasmu dalam perkara akhirat*. Dan realisasi syukur itu tidak hanya dengan bacaan-bacaan atau pujian-pujian pada Allah, tapi dengan amal shalih, demikian nasihat ustadz Abdul Muthi Al Maidany dalam kajian khutbah jumat tasjilat al-ilmi.
4. “Ketidakadilan” dalam dunia, baik itu mungkin masalah harta, fisik, anak, dll adalah bukti nyata bahwa the day of judgement—when everything that we do in our life will be asked, even its just a seed in our heart—PASTI ada. Yup, yang ditanya adalah apa yang kita lakukan terhadap segala yang kita hadapi dan miliki, bukan ditanya tentang apa yang kita hadapi dan miliki. Bukan seberapa cantik wajahmu dan sebanyak apa gajimu, tapi apa yang kamu lakukan dengan wajah dan gajimu itulah yang akan ditanya dan diminta pertanggungjawabannya. Maha Adil Allah dengan segala Kebijaksanaan-Nya. He is the All-Knowing, the All-Wise.
5. Lihat rangkaian tanaman hias di sisi tangga ini
semuanya merupakan buah karya dari Pak Eman. Tak ada rotan, akarpun jadi kali ya; dan ga usah komersil untuk segala hal yang kita lakukan. Syukuri dan nikmati segala yang ada. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan dengan kenyataan yang ada. Gambare!
Saran-saran pembangunan approptech, insya Allah di edisi selanjutnya.





salam dik!!!…
hey…kasih tau donk terjemahan basa jepangnya kagak nyambung tau aq…!!!hhehehe…anyway…it s a nice article
By: oshee on December 26, 2008
at 13:48
wa’alaykumsalam ^-^
tapi bisa diduga2 kan artinya. terjemahan bebasnya: jikanai= ga da waktu nich. hazukashii=malu. darou= iya kan? gambare=semangat/berjuang
thx 4coming
By: kokoro on December 27, 2008
at 09:56
Inspiratif..
Our life its not all about dinar
Ganbarimashou ^^/
Arigathou gozaimasu kokoro.ginkgo san ^^v
By: Himawari on December 10, 2009
at 07:03
doitashimashite himawari-san…
korekara mo yoroshiku neee ^_^
By: kokoro on December 11, 2009
at 15:57